Pakaian aespa Makin Berani: Apakah Ini Cara Mereka Meninggalkan Image Idol Muda?

aespa

kakeriun – Kalau mengikuti aespa sejak era Black Mamba, perubahan visual mereka beberapa tahun terakhir memang cukup mudah terlihat.

Dulu, Karina, Giselle, Winter, dan Ningning banyak tampil dengan estetika futuristik yang terasa seperti perpaduan video game, dunia virtual, cyberpunk, dan karakter dari semesta fiksi. Outfit mereka tajam, eksperimental, terkadang seperti pakaian dari masa depan. Seluruh visual itu cocok dengan konsep awal aespa yang juga memperkenalkan avatar digital bernama æ dan dunia KWANGYA. Teen Vogue

Sekarang gambarnya jauh lebih beragam.

Ada leather, crop top, sheer material, hot pants, lace, siluet yang lebih mengikuti tubuh, sampai styling yang oleh sebagian penggemar dinilai jauh lebih sensual dibandingkan masa rookie mereka. Era Rich Man pada 2025 menjadi salah satu contoh paling jelas. Foto konsepnya bahkan menimbulkan perdebatan karena sebagian netizen Korea menganggap outfit aespa terlalu terbuka, sementara sebagian fans internasional justru melihatnya sebagai tampilan yang berani dan penuh percaya diri. wolipop

Perubahan tersebut membuat muncul pertanyaan menarik.

Apakah aespa memang sedang sengaja mengatakan, secara visual, bahwa mereka sudah bukan rookie berusia belasan atau awal 20-an lagi?

Apakah pakaian yang semakin berani merupakan bagian dari proses membangun image perempuan dewasa?

Jawabannya kemungkinan iya, tetapi tidak sesederhana “makin dewasa berarti makin seksi.”

Kalau melihat perjalanan aespa secara keseluruhan, yang berubah sebenarnya jauh lebih besar: mereka semakin bebas memainkan identitas visual.

Saat Debut, aespa Bukan Dijual sebagai Girl Group yang Sensual

aespa debut melalui Black Mamba pada November 2020.

Pada periode awal tersebut, hal yang paling menonjol bukan sensualitas para member, melainkan konsep digital mereka.

SM Entertainment membangun aespa sebagai grup dengan dunia fiksi cukup kompleks. Karina, Giselle, Winter, dan Ningning memiliki versi avatar digital mereka masing-masing. Ada konsep SYNK, FLAT, KWANGYA, NÆVIS, dan Black Mamba sebagai antagonis dalam storyline mereka.

Teen Vogue pada awal karier aespa bahkan menjelaskan konsep tersebut sebagai cerita mengenai hubungan manusia dengan identitas digital, avatar, dan dunia virtual. Teen Vogue

Fashion mengikuti cerita tersebut.

Busananya banyak menggunakan material metalik, warna gelap, aksesori futuristik, siluet tidak biasa dan styling yang terasa seperti karakter dalam game.

Artinya, pakaian aespa saat debut mempunyai fungsi yang cukup spesifik: membuat penonton percaya pada dunia aespa.

Tubuh member bukan pusat utama konsepnya.

World-building adalah pusatnya.

Kemudian aespa Mulai Keluar dari KWANGYA

Perubahan tidak terjadi secara mendadak.

Setelah Black Mamba, Next Level, dan Savage, identitas futuristik aespa masih sangat kuat.

Namun semakin lama, grup tersebut mulai mencoba dunia visual yang tidak selalu bergantung pada lore KWANGYA.

Era Spicy misalnya membawa aespa menuju aesthetic yang jauh lebih dekat dengan kehidupan nyata. Warna-warna cerah, suasana anak muda, kampus, summer fashion, dan styling Y2K mulai lebih menonjol.

Lalu Drama membawa mereka kembali ke sisi yang lebih gelap.

Supernova dan Armageddon bermain dengan sesuatu yang lebih aneh dan eksperimental.

Whiplash masuk ke minimalisme futuristik yang lebih fashionable.

Kemudian Rich Man datang dengan styling yang lebih berani.

Kalau semuanya dilihat sebagai satu garis perjalanan, sebenarnya bukan hanya ukuran pakaian yang berubah.

Bahasa visual aespa menjadi jauh lebih luas.

Mereka tidak lagi harus terlihat seperti empat karakter yang baru keluar dari dunia virtual.

Rich Man Memang Menjadi Titik yang Sangat Terlihat

Era Rich Man pada September 2025 menjadi momen ketika pembicaraan mengenai image aespa yang semakin sensual benar-benar menguat.

Dalam teaser konsep BURST, para member tampil bersama kendaraan, leather, lace, atasan yang lebih terbuka, celana pendek dan styling dengan nuansa glam-rock.

Media Indonesia Wolipop mencatat respons yang cukup terbelah. Sebagian penggemar internasional memuji konsep tersebut sebagai seksi, glamor dan percaya diri, sementara sejumlah komentar di komunitas Korea mempertanyakan apakah styling-nya terlalu terbuka. wolipop

Itu sendiri menunjukkan satu hal menarik mengenai K-pop.

Pakaian yang dianggap empowering oleh satu kelompok penonton bisa dianggap berlebihan oleh kelompok lain.

Tidak ada satu definisi universal mengenai kapan sebuah outfit disebut dewasa, seksi, elegan atau terlalu terbuka.

Latar budaya dan ekspektasi terhadap idol sangat memengaruhi respons.

Yang Menarik, Judulnya Justru “Rich Man”

Konsep Rich Man juga menarik karena sensualitas visualnya tidak datang dengan pesan “menarik perhatian laki-laki”.

Gagasan albumnya justru memainkan ulang istilah “rich man” sebagai bentuk rasa cukup dan kepercayaan terhadap diri sendiri.

Itu membuat visual sensual pada era tersebut bisa dibaca dengan beberapa cara.

Bisa dianggap sebagai bagian dari keberanian.

Bisa dianggap bentuk eksplorasi fashion.

Bisa juga dilihat semata-mata sebagai keputusan konsep dari tim kreatif.

Karena kita tidak memiliki pernyataan eksplisit dari para member atau SM yang mengatakan, “Kami memakai pakaian lebih terbuka karena ingin membuktikan sudah dewasa,” sebaiknya interpretasi tersebut tidak diperlakukan sebagai fakta.

Usia Mereka Memang Sudah Berbeda dari Masa Debut

Namun ada faktor yang tidak bisa dilepaskan: waktu.

aespa debut pada akhir 2020. Enam tahun kemudian, mereka tentu bukan lagi artis rookie yang berada di fase awal karier.

Ketika sebuah girl group bertahan beberapa tahun, perubahan image sebenarnya hal yang sangat normal.

Perhatikan banyak grup K-pop lain.

Masa rookie sering mempunyai karakter visual yang lebih ketat. Agency ingin membangun identitas yang langsung bisa dikenali publik.

Setelah sebuah grup sudah mapan, ruang eksperimennya biasanya semakin besar.

Member juga semakin mengenal dirinya sendiri.

Mereka mulai mempunyai hubungan dengan rumah mode, menghadiri fashion week, menjalani pemotretan editorial, menjadi ambassador brand dan terekspos pada jauh lebih banyak dunia fashion.

Dengan demikian, image mereka tidak lagi hanya dibentuk oleh satu video musik.

Fashion aespa Sekarang Semakin Dekat dengan High Fashion

Ini aspek lain yang kadang terlewat kalau pembahasannya hanya “aespa sekarang makin seksi”.

Karina, Giselle, Winter, dan Ningning sekarang jauh lebih terlibat dengan industri fashion dibandingkan masa debut.

Penampilan mereka bisa berubah drastis tergantung konteks.

Di panggung musik, seorang member bisa mengenakan outfit eksperimental.

Di airport, stylenya jauh lebih sederhana.

Dalam campaign sebuah brand, tampilannya bisa klasik.

Di red carpet, styling bisa sangat glamor.

Bahkan Ningning pernah menarik perhatian dengan pemakaian archival Dior dalam sebuah acara fashion, sementara Karina, Winter dan Ningning juga termasuk idol yang terlihat mengenakan karya desainer dari berbagai pasar fashion Asia. Koreaboo

Dengan kata lain, wardrobe aespa sekarang sulit diringkas sebagai “lebih seksi”.

Lebih tepat kalau disebut lebih luas.

Lemonade Membuktikan Dewasa Tidak Selalu Berarti Seksi

Contoh paling bagus justru datang dari 2026.

Pada era Lemonade, Vogue mencatat aespa melakukan perubahan cukup besar dari aesthetic Y3K mereka menuju fashion mod yang terinspirasi pertengahan abad ke-20.

Ada shift dress, rambut bervolume, siluet retro dan styling yang jauh berbeda dari konsep Rich Man. Vogue

Karina sendiri mengatakan kepada Vogue bahwa publik banyak mengenal aespa lewat sound yang tajam dan futuristik, tetapi melalui Lemonade mereka ingin membawa karakter tersebut ke arah lain tanpa kehilangan identitas aespa. Vogue

Ini penting.

Kalau narasinya adalah aespa sekarang secara linear berubah dari “imut” menjadi “seksi”, Lemonade malah merusak teori itu.

Mereka bisa tampil sensual dalam satu teaser, lalu menggunakan military-inspired tailoring dalam penampilan lain, kemudian masuk ke retro mod.

Tidak ada satu garis lurus.

Yang terlihat justru kemampuan mereka berganti persona semakin besar.

Tetapi Kenapa Outfit Sensualnya Sekarang Terasa Lebih Sering?

Ada beberapa kemungkinan.

Pertama, aespa memang sudah berada pada fase karier ketika styling yang lebih dewasa terasa alami.

Kedua, tren fashion K-pop sendiri berubah.

Fashion panggung K-pop sekarang sangat dipengaruhi runway, clubwear, Y2K, archival fashion dan streetwear global. Garment yang dulu mungkin dianggap terlalu eksperimental untuk acara musik sekarang bukan sesuatu yang aneh.

Ketiga, media sosial memperbesar perhatian terhadap outfit tertentu.

Satu pakaian yang cukup kontroversial bisa menghasilkan jutaan views, forum discussion, screenshot dan artikel.

Akibatnya, kita merasa “aespa sekarang selalu seperti ini”, padahal kalau seluruh wardrobe selama satu comeback diperiksa, variasinya sebenarnya jauh lebih besar.

Kasus Giselle pada Mei 2026 misalnya menjadi perbincangan karena ia memakai celana dengan detail thong-style waistband saat tampil di acara musik. Outfit tersebut mendapatkan reaksi cukup keras di sejumlah komunitas online. Koreaboo

Beberapa hari kemudian Winter juga menjadi topik setelah teaser Lemonade menampilkan styling neon yang dianggap jauh lebih sensual daripada image yang biasanya dilekatkan kepadanya. Koreaboo

Karena konten seperti ini menyebar luas, publik lebih mudah mengingat momen sensual dibandingkan puluhan outfit yang relatif biasa.

Ada Perbedaan antara “Sexy Concept” dan Perempuan Dewasa yang Berpakaian Seksi

Ini mungkin bagian paling menarik.

Dalam K-pop generasi sebelumnya, “sexy concept” sering menjadi kategori yang cukup jelas.

Ada koreografi tertentu.

Jenis musik tertentu.

Camera work tertentu.

Pakaian tertentu.

Seluruh comeback memang dibangun berdasarkan sensualitas.

Pada aespa, situasinya lebih campur.

Mereka bisa mengenakan pakaian sensual tanpa membuat keseluruhan musiknya menjadi “sexy concept”.

Rich Man tetap memiliki unsur rock dan self-confidence.

Lemonade tetap dibangun dengan estetika retro-futuristik dan self-empowerment.

Sehingga sensualitas menjadi salah satu bahasa fashion, bukan selalu keseluruhan identitas musiknya.

Itu perbedaan yang cukup besar.

Image yang Lebih Dewasa Justru Terlihat dari Kontrol Persona

Mungkin kedewasaan aespa lebih menarik dilihat bukan dari seberapa pendek roknya, tetapi dari seberapa luas karakter yang kini dapat mereka mainkan.

Saat baru debut, aespa harus membuat publik memahami:

“Ini aespa. Girl group futuristik dengan avatar digital.”

Identitas yang sangat kuat memang bagus untuk branding, tetapi juga bisa menjadi kandang.

Kalau setiap comeback harus berbicara tentang KWANGYA, Black Mamba dan dunia virtual, ruang kreatifnya lama-lama sempit.

Sekarang mereka sudah tidak perlu terus-menerus membuktikan bahwa mereka aespa.

Publik sudah mengenali mereka.

Justru karena identitas dasarnya sudah kuat, mereka bisa menggunakan outfit rock, retro, glamorous, minimalis, sensual atau maskulin tanpa langsung kehilangan nama aespa.

Dalam banyak kasus, inilah tanda sebuah artis sudah matang secara branding.

Member Juga Semakin Punya Identitas Fashion Sendiri

Pada masa awal sebuah idol group, member sering terlihat sebagai bagian dari satu paket visual.

Setelah karier berjalan cukup lama, individualitas biasanya semakin kuat.

Hal itu juga terlihat pada aespa.

Style masing-masing member tidak selalu sama.

Seseorang mungkin terlihat nyaman dengan garis yang lebih feminin.

Yang lain lebih sering memakai streetwear.

Ada yang bisa berpindah antara classic fashion dan experimental look.

Winter, misalnya, dalam wawancara 2026 berbicara tentang keinginannya terus mencoba hal-hal baru dan menunjukkan sisi berbeda dirinya. Soompi

Artinya, perubahan visual grup tidak selalu harus datang dari satu strategi perusahaan yang sangat terencana.

Selera dan kenyamanan para member sendiri juga berkembang.

Apakah Semua Outfit Berani Berarti Member Memilihnya Sendiri?

Tidak juga.

Ini perlu diingat agar pembahasannya tidak menyederhanakan industri K-pop.

Styling idol merupakan kerja banyak pihak.

Ada stylist, visual director, creative director, brand, kostum panggung, konsep album hingga kebutuhan koreografi.

Karena itu kita juga tidak bisa melihat satu pakaian kemudian menyimpulkan, “Ini pasti cara member tersebut ingin mengekspresikan dirinya.”

Mungkin iya.

Mungkin juga sebagian besar merupakan keputusan tim visual.

Tanpa pernyataan langsung, kita tidak tahu.

Begitu pula sebaliknya: tidak adil langsung berasumsi bahwa setiap outfit terbuka pasti dipaksakan.

Yang tersedia bagi publik hanyalah hasil akhirnya.

Kenapa Fans Bisa Sangat Protektif terhadap Perubahan Ini?

Hubungan fans dengan idol cukup unik.

Banyak fans sudah mengikuti aespa sejak mereka masih rookie.

Image awal tersebut akhirnya menjadi semacam referensi di kepala.

Winter mungkin selalu dianggap memiliki karakter tertentu.

Karina dianggap mempunyai image tertentu.

Giselle dan Ningning juga demikian.

Ketika styling tiba-tiba melanggar ekspektasi itu, reaksinya bisa jauh lebih besar dibanding artis yang sejak awal memang mempunyai image sensual.

Ada fans yang merasa:

“Ini bukan mereka.”

Namun masalahnya, artis sendiri terus berubah.

Seseorang yang berusia awal 20-an tentu tidak harus berpakaian dan menampilkan persona yang sama sampai usia 30.

K-pop memiliki tantangan unik karena industri tersebut sangat kuat dalam membangun karakter publik idol pada usia muda.

Ketika idol tumbuh, fans juga harus menyesuaikan gambaran mereka mengenai sang artis.

Lebih Seksi Tidak Selalu Sama dengan Lebih Dewasa

Pada akhirnya, ada satu asumsi yang perlu dipisahkan.

Seksi bukan sinonim dari dewasa.

Seseorang bisa mempunyai image sangat dewasa dengan memakai setelan tertutup.

Sebaliknya, pakaian terbuka tidak otomatis membuat konsep memiliki kedalaman atau kedewasaan.

Kalau melihat aespa beberapa tahun terakhir, kedewasaan mereka justru lebih terlihat melalui confidence dan fleksibilitas.

Mereka bisa membawa Whiplash dengan fashion yang sangat dingin dan minimalis.

Bisa tampil liar lewat Rich Man.

Bisa memakai fashion retro dalam Lemonade.

Kemudian berpindah lagi ke sesuatu yang berbeda.

Jadi mungkin salah kalau kita hanya menghitung berapa banyak kulit yang terlihat.

aespa Sudah Tidak Harus Terlihat Seperti aespa Era 2020

Kalau pertanyaan awalnya adalah apakah pakaian aespa makin sensual karena mereka ingin menunjukkan sudah dewasa, jawabannya mungkin sebagian iya.

Usia dan senioritas jelas membuat ruang image mereka berubah.

Mereka bukan lagi girl group rookie yang perlu mematuhi formula visual era debut.

Fashion yang lebih berani bisa menjadi salah satu bentuk dari perubahan itu.

Tetapi bukti yang tersedia belum cukup untuk mengatakan ada strategi resmi “sekarang aespa dewasa, jadi konsepnya harus seksi”.

Yang justru terlihat adalah sesuatu yang lebih menarik.

aespa semakin sulit dimasukkan ke satu kotak.

Mereka bisa seksi tanpa harus menjadi “sexy group”.

Bisa feminin tanpa menjadi cute.

Bisa mengenakan tailoring maskulin tanpa menghilangkan glamour.

Bisa kembali memakai fashion retro setelah setahun sebelumnya tampil sangat Y2K.

Vogue bahkan menggambarkan Lemonade sebagai perubahan besar dari sleek, Matrix-like image yang sudah melekat kepada mereka sejak debut, tetapi para member sendiri tetap menganggap perubahan tersebut bagian dari karakter aespa. Vogue

Mungkin itu bentuk kedewasaan yang sebenarnya.

Bukan aespa sedang berkata, “Lihat, sekarang kami sudah dewasa karena pakaian kami lebih seksi.”

Tetapi lebih seperti:

“Kami sudah cukup lama berada di industri ini sehingga tidak harus terus memakai satu image yang sama.”

Dan enam tahun setelah Black Mamba, kebebasan mengganti persona tanpa kehilangan identitas aespa mungkin merupakan perubahan yang jauh lebih besar daripada sekadar outfit mereka yang makin berani.

Referensi

Teen Vogue. Rising K-Pop Group aespa’s Concept Ties in Digital Culture, the SM Universe, and More.
Teen Vogue – konsep awal aespa dan æ-aespa

Teen Vogue. aespa Explained Their Complex Concept and Celebrated New Song “Next Level”.
Teen Vogue – dunia KWANGYA dan konsep Next Level

Vogue. An Exclusive Look Behind the Scenes of aespa’s Surprising New “Lemonade” Video, 2026.
Vogue – evolusi fashion aespa di era Lemonade

Wolipop Detik. aespa Comeback dengan Konsep Sexy Glam, Busana Dikritik Terlalu Terbuka, 1 September 2025.
Wolipop – respons terhadap styling Rich Man

Soompi. aespa’s Winter Talks About Tackling Her Fear of Trying New Things, Her Upcoming Solo Stage, and More, 14 September 2026.
Soompi – wawancara terbaru Winter

Vogue. K-Pop Stars Are Fueling the Rise of Vietnamese Fashion, 9 Juli 2026.
Vogue – aespa dan perkembangan fashion K-pop